Pernah enggak kamu berada di posisi di mana orang-orang di sekitar terus-terusan mengingatkan bahwa "menikah itu sunnah yang ditekankan"?
Di saat yang sama, kamu cuma bisa diam sambil batin: "Aku tahu diri ku. Aku belum siap, dan aku enggak mau mempertaruhkan hidup orang lain."
Di tengah masyarakat yang hobi menjadikan pernikahan sebagai indikator pencapaian hidup, mengambil keputusan untuk menunda atau bahkan meragukan kesiapan diri sering kali dianggap aneh, egois, atau melawan anjuran. Padahal, kalau mau jujur dan pakai logika, mengakui ketidaksiapan diri justru adalah bentuk kedewasaan yang sangat tinggi loh.
Memang benar, secara umum menikah adalah anjuran yang ditekankan (sunnah muakkad). Namun, agama tidak pernah mengajarkan logika "pukul rata". Dalam fiqih Islam, hukum pernikahan itu sangat fleksibel dan mengikuti kondisi psikologis serta finansial setiap individu. Hukumnya bisa di bagi jadi beberapa bagian :
* Sunnah: Bagi mereka yang sudah mampu secara fisik, emosional, finansial, dan siap menjalankan hak serta kewajiban.
* Makruh atau Haram: Bagi seseorang yang tahu betul bahwa dirinya belum siap mental atau khawatir tidak bisa memenuhi hak pasangan, sehingga berpotensi menzalimi orang lain.
Maka, jawaban paling logis untuk mereka yang suka menuntut adalah: menunda menikah karena tahu kapasitas diri bukanlah bentuk menolak anjuran, melainkan cara menghindari perbuatan zalim.
Kenyataan pahitnya suami bukan Ibu.
Pernah berpikir gini ga?,"Cuma ibu ku yang bisa mentolerir semua kelakuan ku" Itu adalah kesadaran yang sangat realistis.
Cinta seorang ibu adalah cinta tanpa syarat (unconditional love). Ibu bisa memaklumi rasa malas, ego, atau emosi kita karena ada ikatan darah. Sementara itu, pernikahan menyatukan dua manusia asing. Hubungan dengan suami/istri menuntut kompromi dua arah.
Soal pekerjaan rumah tangga seperti masak atau cuci baju, di zaman modern sebenarnya bisa diselesaikan dengan outsourcing (laundry, beli makanan, atau sewa ART). Secara hukum pun, tugas istri bukanlah menjadi pekerja domestik semata. Tapi masalah utamanya bukan di kuali atau mesin cuci, melainkan pada pengelolaan ego.
Jika seseorang belum siap menahan ego, belum mau menurunkan tensi saat dikritik, dan belum siap beradaptasi dengan tabiat orang lain, membayangkan hidup bersama seumur hidup, ditambah tanggung jawab mengasuh anak adalah beban yang sangat nyata, bukan sekadar ketakutan yang dibuat-buat.
Menikah bukan cuma menyatukan dua kepala untuk setahun dua tahun, tapi panggung panjang yang melibatkan masa depan pasangan dan calon anak. Membawa anak ke dunia berarti bertanggung jawab penuh atas mental, pendidikan, dan kehidupannya. Jika fondasi emosional orang tuanya saja belum kokoh, anak yang kelak menjadi korbannya.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa masih keras kepala, masih belum ingin berkompromi, atau masih ragu dengan kapasitas diri sendiri, itu sama sekali tidak salah.
Daripada memaksakan diri menikah cuma demi membungkam mulut orang lain lalu berakhir merusak hidup sendiri dan pasangan, jauh lebih terhormat untuk berdiri tegak dan berkata:
"Gua paham risiko dan tanggung jawab pernikahan itu sangat besar. Gua memilih jujur pada diri sendiri daripada berpura-pura siap."
Karena pernikahan bukan tempat "Coba-Coba"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar